<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8385151673298623958</id><updated>2012-02-15T22:57:37.984-08:00</updated><category term='Jatinangor'/><category term='calo'/><category term='terminal'/><category term='pasar tradisional'/><category term='kereta api'/><category term='komidi putar'/><category term='garut'/><category term='situ bagendit'/><category term='kampus'/><category term='bahasa'/><title type='text'>Blog's Mpit</title><subtitle type='html'>Menulis...Menulis...Menulis...Semoga menjadi Penulis!!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nengmpit.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mpitjamila</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00816638570901101931</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/TDRPoakb1UI/AAAAAAAAACY/tmQRBlvWMcE/S220/editt2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8385151673298623958.post-3168424923298062547</id><published>2010-07-01T08:10:00.000-07:00</published><updated>2010-07-01T08:10:42.188-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pasar tradisional'/><title type='text'>Seribu Rupa Pasar Tradisional</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang terlintas oleh anda saat mendengar kata ‘pasar’? Dan apa yang terbayang oleh anda tentang pasar tradisional di Indonesia?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keberadaan pasar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan saya. Itulah alasan mengapa saya ingin menuliskannya menjadi sebuah catatan sejarah yang penting.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_zhyn1czoI/AAAAAAAAACU/YHCoh1BG9IA/s1600/pasar-tambun1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_zhyn1czoI/AAAAAAAAACU/YHCoh1BG9IA/s400/pasar-tambun1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasar adalah tempat berlangsungnya proses jual beli antara penjual dan pembeli. Pasar juga merupakan salah satu tempat vital yang harus ada di suatu daerah selain dari kantor desa, sarana pelayanan kesehatan, tempat ibadah, sarana pendidikan, dan yang lainnya, karena di tempat inilah berbagai keperluan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dapat ditemukan. Pasar juga memegang peranan penting dalam perputaran roda ekonomi masyarakat di suatu daerah khususnya tingkat menengah ke bawah. Selain itu, keberadaan pasar menjadi salah satu tempat sebagai sumber mata pencaharian bagi yang bekerja sebagai wirausaha/pedagang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasar identik dengan tempat yang tidak nyaman untuk berbelanja, becek, kumuh, dan bau sampah bagi sebagian besar kalangan. Keberadaan pasar pun kadang menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan jalur lalu lintas. Namun, tahukah anda bahwa berbelanja di pasar memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan berbelanja di supermarket atau mall-mall besar. Di pasar, pembeli dapat dengan bebas melakukan tawar-menawar atau bahasa kerennya melobi dan bernegosiasi dengan pihak penjual - tentunya disesuaikan dengan jenis barang yang ditawar. Walaupun tidak semua kualitas barang atau produk yang dijual di pasar dapat dikatakan baik, namun hampir dapat dipastikan berbelanja di pasar jauh lebih hemat dan murah, serta apapun barang yang dibutuhkan umumnya tersedia di tempat ini. Mulai dari kebutuhan untuk memasak seperti buah dan sayuran, sembako, daging, ikan, peralatan rumah tangga, makanan ringan dan berat, obat dan kosmetik, perhiasan, kelontongan, peralatan sekolah, alat dan bahan bangunan, alat listrik dan elektronik, hingga kebutuhan sandang sekalipun. Dan masih banyak lagi. Enaknya lagi jika kita sudah memiliki link toko atau kios sehingga kita menjadi pelanggan tetapnya begitupun sebaliknya. Biasanya lebih mudah menawar atau kita bisa melakukan pinjaman alias ‘nganjuk’ pada saat kepepet dan ketika bertemu musim lebaran dapat jatah THR (Tunjangan Hari Raya). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun demikian, berbelanja di pasar juga tidak luput dari kekurangan terutama faktor keamanan dan kenyamanan. Untuk itu, diperlukan ekstra kesabaran, kehati-hatian dan kewaspadaan pembeli. Hal lain yang menjadi penyebab mengapa pasar menjadi tempat tujuan belanja yang tidak menarik dan dipilih oleh masyarakat adalah karena biasanya pasar tidak mengadakan undian ataupun kupon berhadiah. Tidak seperti yang dilakukan oleh pusat perbelanjaan lainnya, seperti mall, supermarket, waralaba. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasar tradisional rasanya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya. Betapa tidak, kurang lebih 18 tahun saya ikut menyelami suka duka orang tua saya dalam mengarungi kehidupan di beberapa pasar yang sudah dijajaki di tanah kelahiran saya. Tahun 1990-an orang tua saya memutuskan untuk berwiraswasta dengan menyewa sebuah kios di pasar Simpang –dekat dengan rumah saya dan mereka memutuskan untuk menjual barang dagangan berupa sandal, sepatu, dan tas. Setiap hari mama membawa saya untuk ikut serta ke pasar –ketika itu usiaku sekitar 4 tahun dan sejak itulah saya menjadi akrab dengan lingkungan pasar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belanja adalah salah satu tugas yang dibebankan kakak perempuan saya satu-satunya kepada saya setiap harinya. Jadinya, setiap hari menjelang sore, berbekal uang belanja saya pun pergi ke pasar yang jaraknya tak jauh dari rumah saya –namanya Pasar Simpang, ada juga yang menyebut Pasar Mentras. Lama kelamaan, saya pun menyukai kebiasaan ini –belanja ke pasar. Dan hal yang tidak bisa saya lewatkan ketika berbelanja di pasar adalah menawar harga. Tapi tentu saja tidak semua barang wajib ditawar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika saya bepergian ke suatu tempat yang baru saya kunjungi, pasar adalah tempat yang tidak boleh terlewatkan untuk saya kunjungi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernah suatu ketika, selepas mendatangi stasiun untuk membeli tiket kereta api, berjalanlah saya dan satu orang teman saya menyusuri jejeran pedagang yang memanjang sepanjang jalan Kiara Condong. Saya memang berniat mencari suatu barang yang sudah jauh hari dipesan oleh sahabat saya yang tinggal di Yogyakarta berhubung disana barang ini tidak ditemukan. Akhirnya, saya mampir ke salah satu kios. Saya pun mencari barang yang dimaksud. Namun, tidak saya dapatkan juga, kalaupun ada berbeda model dan kesulitan mencari ukuran yang pas. Tetapi akhirnya saya tetap membeli juga sandal berbahan plastik yang lebih mirip seperti gabus –ringan dan nyaman, yang mana waktu itu sedang laku di pasaran –maklum barang buatan Cina murah dan cukup awet. Cukup 25 ribu saja sandal itu langsung saya bawa pulang ke Jatinangor sehabis perang harga dengan penjualnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada lagi alasan lain saya mengunjungi pasar Dangdeur dan pasar Cileunyi. Bukan untuk berbelanja makanan atau sayuran. Tapi, kedatangan saya bersama dua teman kampus saya adalah untuk berburu ‘orang gila’ tapi lebih tepatnya orang dengan gangguan kesehatan mental. Ini adalah tugas yang paling aneh sepanjang perkuliahan di kampus keperawatan yang diberikan oleh dosen yang paling saya kagumi. Namun, sayangnya tak satu pun target yang kami cari menampakkan diri. Kata para pedagang disana, “biasanya jam segini mah suka ngider.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa daerah juga memilki keunikan tersendiri terkait dengan pasar tradisional. Misalnya, waktu berkunjung ke daerah Pakenjeng daerah yang hampir tak tercantum di peta, ternyata pasar ini beroperasi hanya satu kali dalam seminggu yaitu hari Minggu saja. Dan beruntungnya saya dan teman-teman saat itu, kami berbelanja tepat di hari Minggu. Sehingga acara masak-memasak pun dapat terlaksana. &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_zhmwA-s7I/AAAAAAAAACQ/bFdUtQiSZoE/s1600/pasar-tradisional.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_zhmwA-s7I/AAAAAAAAACQ/bFdUtQiSZoE/s400/pasar-tradisional.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita lain yang juga tak bisa saya lupakan adalah berjalan-jalan di pasar Tagog Padalarang. Ketika itu saya dan beberapa teman Mu’allimin dalam rangka agenda kunjungan ke rumah salah satu teman di antara kami. Sumpah jalanan sangat macet. Angkot dan delman saling bersaing. Namun, yang menyenangkan adalah walaupun sudah mendekati jam malam (10-an), pasar ini masih saja rame dan banyak pengunjung. Memang kukira pasar ini areanya cukup besar. Hiruk pikuk sahutan para pedagang menawarkan barang dagangannya setiap kami lewat. Alunan musik dangdut dari para penjual VCD bajakan yang super kencang memekakkan telinga turut menghiasi keriuhan malam itu. Dan, akhirnya kami berhasil membawa pulang martabak manis sebagai pengganjal perut sementara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak ketinggalan juga pasar Tanjungsari tak luput dari kedatangan saya, apalagi pasar ini jaraknya tidak begitu jauh dari tempat dimana saya berada. Dari Jatinangor cukup naik angkot coklat trayek Cileunyi-Sumedang selama kurang lebih 15-20 menit perjalanan. Saya sudah beberapa kali datang ke pasar ini. Tentunya untuk membeli barang yang saya butuhkan. Pasar ini ternyata cukup luas dan cukup bersih.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasanya tak lengkap jika mengunjungi kota Bandung tanpa singgah dulu ke pasar Baru. Pasar Baru merupakan pasar yang cukup terkenal di kota Bandung, pasalnya di tempat ini dapat ditemukan berbagai macam barang dengan harga eceran atau grosir. Barang-barang yang dijual pun cukup bervariasi dimulai dari pakaian jadi, kain, sepatu, sandal, tas, dan masih banyak lagi. Pokoknya sayang jika melewatkan berkunjung ke pasar ini. Apalagi jika hari libur dan menghadapi hari raya, benar-benar rame dan padat dengan orang-orang yang sedang berburu barang-barang yang dibutuhkannya. Tapi, terus terang saya jarang berbelanja barang dari tempat ini, maklum kondisi saku yang tidak mendukung. Paling sekali waktu pernah membeli kain dan kerudung untuk acara pernikahan teman saya waktu Mu’allimin dulu. Seringnya mengantar teman/keluarga atau hanya membeli kebutuhan non pribadi. Pun untuk sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat saja. Dan harus mampu menawar harga becak, jangan sampai kemahalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kota kelahiran saya pun tak ketinggalan punya cerita. Pasar Ciawitali yang berada tidak jauh dari lokasi terminal Guntur menjadi pemandangan tersendiri. Biasanya pada pagi hari pasar ini sangat rame oleh penjual makanan olahan dan sayuran yang masih segar. Namun, menuju siang hari suasana pasar terlihat sepi. Kondisi pasar ini kurang bersih dan nyaman, apalagi saat turun hujan, jalanan menjadi becek dan licin. Namun, saya bisa memilih sarana transportasi yang tersedia disini dengan tarif ongkos yang berbeda. Ada delman, becak, angkot, dan ojek. Tinggal pilih saja!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi mahasiswa atau penduduk yang tinggal di Jatinangor, pasti tak asing dengan pasar kaget yang berlangsung setiap hari Minggu pagi hingga siang hari (sekitar pukul 06.00-13.00), yang terkenal dengan sebutan PAUN (kepanjangan dari Pasar Unpad). Sejarahnya sendiri, detailnya saya tidak cukup tahu. Namun, yang saya ketahui dinamakan Paun karena memang para pedagang berjualan di sekitar area kampus Unpad, mulai dari gerbang lama Unpad hingga gerbang baru Unpad. Barang-barang yang diperjualbelikan pun beragam. Mulai dari kebutuhan sandang (pakaian, sepatu, sandal, tas, dompet, alat-alat dapur dan rumah tangga, dan lainnya), kebutuhan pangan (sembilan bahan pokok, sayuran, buah-buahan, ikan tawar atau asin, daging, cemilan, kue-kue, dan lainnya), kebutuhan rekreasi dan hiburan (biasanya, sulap, sisingaan, odong-odong, naik kuda, dan lainnya), dan tak ketinggalan jika ingin berwisata kuliner, Paun bisa menjadi pilihan. Biasanya pengunjung yang datang kebanyakan mahasiswa/i juga penduduk dari daerah sekitar Jatinangor. Harga yang ditawarkan bervariasi, tidak begitu mahal, dan bisa tawar-menawar harga. Tapi adapula barang yang sudah memiliki harga pasaran yang tidak bisa ditawar lagi, seperti kaos kaki dengan harga Rp. 5000 dapat 3 pasang kaos kaki, atau ‘onderdil’ perempuan ditawarkan dengan harga Rp. 10.000 dapat 3. Dan masih banyak lagi. Selain itu, dari pukul 06.00-08.00 biasanya ada senam pagi di lapangan basket dekat GOR Padjadjaran yang dipimpin oleh seorang instruktur senam, cukup membayar Rp. 1000. Memang kawasan kampus Unpad ini, setiap hari Sabtu dan Minggu menjadi tempat yang cocok dan nyaman untuk berolahraga terutama lari pagi atau jogging. Tidak hanya itu, bermain badminton, basket, sepak bola dapat dilakukan disini, tentunya banyak area yang terbuka dan lapangan yang dapat digunakan untuk latihan. Namun, sayang sekali sejak tahun 2009 (tepatnya kapan, lupa) Paun harus dipindah tempatkan ke kawasan Unwim, tepatnya di lapangan Menara Loji (kalau namanya tidak salah ini). Alasan yang mendasari kepindahan itu pun saya tidak tahu. Entahlah, apakah nama PAUN berganti atau tidak? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah tulisan saya kali ini. Masih agak kacau memang. Tapi mudah-mudahan menambah semangat bagi para pembaca untuk mengunjungi kawasan ini dibanding mall atau pun supermarket. Agaknya slogan ini cukup bijak “Mari kita gunakan produk-produk dalam negeri.” Saya berharap dapat mengunjungi pasar-pasar tradisional di seluruh Indonesia yang tentunya memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Hidup Pasar Tradisional!!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8385151673298623958-3168424923298062547?l=nengmpit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nengmpit.blogspot.com/feeds/3168424923298062547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/07/seribu-rupa-pasar-tradisional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/3168424923298062547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/3168424923298062547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/07/seribu-rupa-pasar-tradisional.html' title='Seribu Rupa Pasar Tradisional'/><author><name>mpitjamila</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00816638570901101931</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/TDRPoakb1UI/AAAAAAAAACY/tmQRBlvWMcE/S220/editt2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_zhyn1czoI/AAAAAAAAACU/YHCoh1BG9IA/s72-c/pasar-tambun1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8385151673298623958.post-5765926031918111804</id><published>2010-05-15T00:43:00.001-07:00</published><updated>2010-05-20T05:35:59.282-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komidi putar'/><title type='text'>Sensasi Komidi Putar</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_UsFJQ8-8I/AAAAAAAAACI/RsrBqjfqtcQ/s1600/images.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_UsFJQ8-8I/AAAAAAAAACI/RsrBqjfqtcQ/s320/images.jpeg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sewaktu saya kecil, tak ada hiburan yang lebih menyenangkan selain komidi putar. Komidi putar ini beroperasi setiap sore hari di pelataran bangunan yang dulunya adalah stasiun kereta api yang sudah lama ditinggalkan. Namun kemudian bangunan itu diperuntukkan sebagai tempat pembayaran listrik. Dan area pelataran stasiun itu berubah menjadi arena bermain anak-anak di sore hari. Hingga suatu hari, muncullah hiburan yang terbilang asing dan unik bagi masyarakat di daerahku saat itu. Arena bermain ini dibawa oleh 3 orang pria yang terlihat sebagai pendatang baru di daerahku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komidi putar sederhana yang dimainkan berbahan baku kayu. Bentuknya pun tidak asing lagi, melingkar seperti payung. Mirip juga seperti kerangka roda, ada poros, ruas, dan rongga untuk memasangkan terpal sebagai penutup bagian atas untuk melindungi penumpang dari panas terik matahari ataupun kucuran air hujan. Bentuk dudukan untuk penumpang pun macam-macam, ada yang berbentuk kursi panjang, kuda, kursi ‘single’, pesawat, dan sebagainya. Cara menggerakan komidi ini tidak menggunakan mesin seperti zaman modern sekarang ini, tapi bapak-bapak penjaga komidi inilah yang akan menggerakan komidi putar ini dengan kekuatan tenaganya. Setelah para penumpang yang notabene anak-anak usia balita, pra sekolah, dan sekolah didudukkan diatas dudukan yang telah dipilih maka ‘mang’ pemilik bersiap mengumpulkan tenaga, memegangi kayu yang terhubung antara dudukan dan talang komidi dan 3 orang bersiap dengan posisi masing-masing, sang pemimpin menginstruksikan aba-aba dengan hitungan “1 (hiji), 2 (dua), 3 (tilu)….puuttteeerrrrrrrrr!!!!!!” dengan teriakannya yang dahsyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, komidi putar pun berputar dengan kencangnya, seperti sedang berotasi. Aku sering berteriak-teriak tidak jelas saat komidi berputar, antara senang, was-was, juga kaget. Dan hal yang tidak kalah menyenangkan juga adalah saat para penonton atraksi ini yang notabene orangtua anak-anak, dihiasi muka berseri-seri melambaikan tangan kepada para penumpang cilik sambil meneriakan sesuatu dan para penumpang pun membalas lambaian tangan mereka dengan gerakan “dadah”. Namun, lebih daripada itu, menaiki komidi putar berdasarkan pengalamanku adalah seperti melepaskan diri dari keterbatasan, kesedihan, dan kehampaan. Komidi putar memberikan sensasi tersendiri untukku, aku seperti akan terbang mengarungi angkasa dengan sayap yang tiba-tiba terpasang di belakang punggungku, suara-suara dari bawah terdengar semakin menghilang berubah menjadi semilir angin yang tenang. Setiap putaran berirama, bernada, tenggelam dalam keteraturan. Apalagi sambil memejamkan mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih dua sesi putaran komidi itu digerakkan oleh ‘mang’ pemilik, dan lambat laun putaran dengan sendirinya akan terhenti. Serasa terbangun dari alam mimpi, kembali dengan dunia nyata. Dengan sigap, ‘mang-mang’ itu akan menurunkan kami satu per satu. Aku pun tak lupa merogoh saku kecilku mengeluarkan uang kertas Rp. 100 bergambar burung merak lalu kuserahkan pada ‘mang’ pemutar komidi. Itulah kenanganku dengan komidi putar pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_UslRXrO2I/AAAAAAAAACM/-AH0zzBBT4c/s1600/ulukutek000.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="193" src="http://4.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_UslRXrO2I/AAAAAAAAACM/-AH0zzBBT4c/s400/ulukutek000.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berbeda halnya dengan beberapa tahun kemudian, komidi putar yang datang kembali ke kampungku sudah berganti rupa. Pun lebih variatif jenis permainannya. Namun, bagaimanapun rupa komidi putar, rasanya setiap orang memiliki kesan tersendiri dengan permainan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: Desaku yang kucinta (Simpangsari, 1996)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8385151673298623958-5765926031918111804?l=nengmpit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nengmpit.blogspot.com/feeds/5765926031918111804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/05/sensasi-komidi-putar_8052.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/5765926031918111804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/5765926031918111804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/05/sensasi-komidi-putar_8052.html' title='Sensasi Komidi Putar'/><author><name>mpitjamila</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00816638570901101931</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/TDRPoakb1UI/AAAAAAAAACY/tmQRBlvWMcE/S220/editt2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_UsFJQ8-8I/AAAAAAAAACI/RsrBqjfqtcQ/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8385151673298623958.post-7123048726624331990</id><published>2010-04-06T05:58:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T21:01:37.366-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kampus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jatinangor'/><title type='text'>(Sekilas) Jatinangor</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CFITRIR%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CFITRIR%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CFITRIR%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:35.4pt;	mso-footer-margin:35.4pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7srU3BLIuI/AAAAAAAAACA/aHwqgJaMbvg/s1600-h/6240_1153622211446_1554406170_387180_4478689_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7srU3BLIuI/AAAAAAAAACA/aHwqgJaMbvg/s320/6240_1153622211446_1554406170_387180_4478689_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tak terasa waktu terlewati begitu cepatnya. Rasanya baru kemarin saya berada disini, ternyata sudah hampir tiga setengah tahun berlalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pertama kali saya datang ke daerah ini saat saya beserta keempat teman SMA saya diajak oleh kakak senior temannya kakak teman saya (kebetulan beliau juga mahasiswa di kampus ini) untuk melihat-lihat kampus yang dulu saya cita-citakan. Setelah selesai dengan urusan pengembalian formulir SPMB waktu itu, dua hari kemudian saya beserta rombongan berangkat dari Dipati Ukur Bandung menaiki Damri yang sebenarnya agak tidak nyaman untuk dinaiki. Saya mengira kampus yang saya cita-citakan ini hanya berlokasi di Bandung saja, yaitu di Dipati Ukur dan sekitarnya yang sudah saya kunjungi sebelumnya. Namun, ternyata tidak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jatinangor, nama inilah yang saya dengar keluar dari mulut senior. Kedengarannya asing memang di telinga saya. Maklum walaupun notabene saya hidup di provinsi Jawa Barat, ternyata banyak tempat yang belum saya ketahui. Dan salah satunya Jatinangor. Kurang lebih 2 jam (macet banget di Bandung) perjalanan DU-Jatinangor via tol saya lalui. Damri berhenti tepat mengarah ke arah gerbang yang bertuliskan “KAMPUS UNPAD JATINANGOR”. “Nah, ini namanya PANGDAM alias Pangkalan Damri” senior saya memberi penjelasan pada kami. Turun dari Damri, panasnya daerah ini langsung menyambut kehadiran kami. Seperti berada di daerah gurun. Belum lagi debu dan polusi disana-sini, gersang kelihatannya dengan tanah merah yang garang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ketika itu, tahun 2006 silam saya ke Jatinangor. Daerah yang panas, sumber polusi berupa asap kendaraan bermotor yang menyebalkan, sering terjadi kemacetan karena jalur jalan raya yang sering dilalui bus antar kota dan provinsi juga mobil-mobil besar pengangkut barang kiriman serta merupakan jalan alternatif menuju kota Cirebon, Indramayu, sebagian daerah Jawa Tengah, dan sebagainya ditambah belum adanya pelebaran jalan seperti saat ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jatinangor bukanlah kota besar seperti Bandung, daerah ini merupakan perbatasan Bandung-Sumedang. Mungkin karena kawasan ini menjadi kawasan kampus yang mana banyak pendatang dari berbagai daerah, suku, ras, sosial ekonomi, budaya, dan sebagainya terutama mahasiswa itu sendiri sehingga keberadaan Jatinangor menjadi ramai dan menjadi salah satu daerah pilihan untuk orang-orang mendulang rejeki serta menjadi bidikan para penanam modal untuk berinvestasi. Bagaimana tidak, kawasan ini kawasan kampus, tidak hanya Universitas Padjadjaran, ada IPDN, IKOPIN, dan UNWIM sehingga jelas mahasiswa menjadi target market yang menjanjikan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7srtia_nDI/AAAAAAAAACE/TIyAsk2H7WE/s1600-h/selisik-Cover.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="187" src="http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7srtia_nDI/AAAAAAAAACE/TIyAsk2H7WE/s320/selisik-Cover.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dahulu dan sekarang, Jatinangor telah banyak berubah, pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat mungkin memberikan kontribusi yang bagus untuk pemerintah daerah setempat. Sekarang kalau anda jalan-jalan ke Jatinangor, banyak pedagang kaki lima menjamur di beberapa titik kawasan, toko-toko pun tidak mau kalah, banyak pembangunan disana-sini, dan tidak luput pelebaran jalan yang dilakukan pada tahun 2009 kemarin. Dan sebagai referensi, jika anda suatu waktu pergi ke Jatinangor, jangan khawatir, jika anda kelaparan ada banyak pilihan warung makan dari yang di pinggir jalan hingga berskala restoran hotel sekali pun ada disini dengan menu dan harga yang bervariasi. Untuk penginapan, anda bisa mampir ke hotel Puri Khatulistiwa atau Hotel Jatinangor jika kantong anda memungkinkan untuk membayarnya. Atau pilihan yang gratis sama sekali adalah anda bermalam di kosan teman anda. Pokoknya, komplit lah, mau browsing ada banyak warnet dan hotspot area, fotokopian, studio foto dan masih banyak lagi ada disini (kok jadi promosi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tapi, tahukah anda, ternyata daerah ini dulunya merupakan daerah perkampungan yang tidak begitu ramai, daerahnya masih didominasi oleh areal pesawahan. Dan jumlah penduduk aslinya pun tidak begitu padat. Namun, sejak menjadi kawasan pendidikan, tentunya dampak dari pembangunan memberikan pengaruh yang signifikan dan memunculkan berbagai perubahan terhadap seluruh aspek yang ada di Jatinangor itu sendiri. Kebanyakan penduduk di Jatinangor saat ini adalah pendatang, baik mahasiswa, pedagang/pengusaha/investor termasuk pemilik kos-kosan, serta mungkin juga para pengemis dan pengamen yang semakin menjamur di kawasan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Akhirnya, Jatinangor dulu dan sekarang. Telah banyak berubah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8385151673298623958-7123048726624331990?l=nengmpit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nengmpit.blogspot.com/feeds/7123048726624331990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/jatinangor-1_06.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/7123048726624331990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/7123048726624331990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/jatinangor-1_06.html' title='(Sekilas) Jatinangor'/><author><name>mpitjamila</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00816638570901101931</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/TDRPoakb1UI/AAAAAAAAACY/tmQRBlvWMcE/S220/editt2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7srU3BLIuI/AAAAAAAAACA/aHwqgJaMbvg/s72-c/6240_1153622211446_1554406170_387180_4478689_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8385151673298623958.post-3551105074185522982</id><published>2010-04-05T00:49:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T00:49:06.305-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='calo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terminal'/><title type='text'>Calo dan Terminal</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7mV2DKjP3I/AAAAAAAAAB8/IJEAhKaUZ0Y/s1600-h/Leuwipanjang05.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7mV2DKjP3I/AAAAAAAAAB8/IJEAhKaUZ0Y/s200/Leuwipanjang05.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang menjadi ciri khas negara kita dari keberadaan sebuah terminal dan menjadi fenomena baru yang beberapa tahun ke belakang sudah cukup lama berkembang dan hingga hari ini mungkin malah semakin meningkat adalah keberadaan para calo yang berkeliaran di hampir terminal seluruh Indonesia. Bahkan dari beberapa literatur hasil &lt;i&gt;searching&lt;/i&gt; saya di internet, beberapa data menyebutkan bahwa tidak jarang jumlah calo jauh lebih banyak dibanding dengan jumlah kunjungan penumpang ke terminal. Apalagi pada saat menjelang musim liburan atau mulai memasuki masa mudik lebaran, semakin berjamur para calo itu. Lalu sebenarnya apakah 'calo' itu? Layakkah diadopsi menjadi sebuah pekerjaan baru? Dan tentu saja mencari literatur untuk menjawab semua ini, saya tidak menemukannya. Namun, tidak salah jika saya mencoba memberikan pendapat saya sendiri. Calo kalau boleh saya simpulkan adalah orang-orang yang mencari penumpang untuk angkutan&amp;nbsp; yang beroperasi baik itu bus, angkot, dan sebagainya&amp;nbsp; (ya semacam makelar atau perantara) dengan sukarela atau dengan upah (maksudnya meminta bayaran). Biasanya calo tugasnya berpindah-pindah bahkan ada juga yang khusus mencaloi satu angkutan saja (maksudnya kerja sama dengan supir atau kondektur yang sama). Bagaimana sejarahnya calo menjadi sebuah pekerjaan yang sepertinya sudah 'legal' saat ini tentunya perlu penelusuran yang lebih dalam. Tapi, barangkali faktor ekonomi dan kemiskinan serta pengangguran yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Asalkan dari sumber yang halal dan cara yang baik dan benar, antara calo, penumpang, dan supir/kondektur ada kesepakatan dan tidak saling merugikan maka bekerja menjadi calo bisa jadi diterima.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, namanya juga manusia yang hidup dengan sifat dan karakteristiknya, maka jangan heran banyak calo yang membuat kesal penumpang dan ada pula calo yang malah menjadi penolong bagi kebingungan penumpang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7mVoLxmOYI/AAAAAAAAAB4/qEgkSgWStoA/s1600-h/Leuwipanjang04.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7mVoLxmOYI/AAAAAAAAAB4/qEgkSgWStoA/s400/Leuwipanjang04.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti pengalaman saya di Terminal Guntur Garut, waktu itu saya dan ibu saya akan pergi ke Bandung, tepatnya ke Dipati Ukur, mungkin melihat kami berdua yang kebingungan mencari bus menuju Terminal Cicaheum, calo tersebut mendatangi kami sambil bertanya ini-itu, dengan nada sopan&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; membujuk saya dan ibu saya untuk menaiki bus yang direkomendasikannya dan pada akhirnya membantu juga. karena bus yang ditawarkan tidak mengecewakan, hehe. Berbeda dengan di Terminal Leuwi Panjang, saya pernah bertemu dengan tipikal calo yang agak 'cunihin' dan bertanya ini-itu sambil &lt;i&gt;nyerocos&lt;/i&gt; dan agak memaksa, padahal sudah tahu tujuan saya bukan bus yang ia tawarkan. Kesal jadinya. Ada juga calo yang ketika saya sedang jalan diikuti terus sambil terus bertanya kemana tujuan saya pergi dan mau merebut barang bawaan saya, kalau tidak salah ingat di Terminal Tasikmalaya. Tambah cemberut muka saya waktu itu. Apalagi di Terminal Cicaheum yang sungguh membuat tidak nyaman, sudah bising, polusi dimana-mana, macet, dan suara-suara riuh para calo yang berebut penumpang dan &lt;i&gt;stand by&lt;/i&gt; di pintu masuk terminal. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin, itu baru sebagian kecil kehidupan di terminal yang cukup tidak bersahabat. Banyaknya persaingan, konflik sosial, dan seleksi alam pun berlaku disana. Namun, saya pun kadang kasihan juga melihat nasib para calo yang tidak jelas arah masa depan mereka akan dibawa kemana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8385151673298623958-3551105074185522982?l=nengmpit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nengmpit.blogspot.com/feeds/3551105074185522982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/calo-dan-terminal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/3551105074185522982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/3551105074185522982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/calo-dan-terminal.html' title='Calo dan Terminal'/><author><name>mpitjamila</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00816638570901101931</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/TDRPoakb1UI/AAAAAAAAACY/tmQRBlvWMcE/S220/editt2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7mV2DKjP3I/AAAAAAAAAB8/IJEAhKaUZ0Y/s72-c/Leuwipanjang05.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8385151673298623958.post-747157962063885567</id><published>2010-04-03T21:15:00.000-07:00</published><updated>2010-04-03T22:00:23.915-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='situ bagendit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='garut'/><title type='text'>Semalam di Situ Bagendit</title><content type='html'>Tiba-tiba teringat akan sesuatu. Langsung saja saya tulis disini. Mudah-mudahan memberi informasi.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada satu tempat yang hampir terlupa di ingatan saya yakni Situ Bagendit. Ada yang pernah mendengar nama ini? Ya, dulu saya berkesempatan mengunjungi kawasan yang merupakan salah satu objek wisata di tanah kelahiran saya, tepatnya di Banyuresmi Garut, pada saat saya masih duduk di bangku Mu'allimin (atau setingkat SMA). Waktu itu kalau tidak salah ingat saya pergi bersama teman-teman satu angkatan dan beberapa guru pembimbing dalam rangka acara pembubaran panitia HI (Haflah Imtihan) tahun 2005 silam. Kami membuat beberapa tenda di sekitar tanah berumput yang cukup luas karena memang rencananya kami semua akan bermalam disana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami berangkat dari sekolah di Jln. Pembangunan (sekitar Simpang Lima) sekitar jam 14.30 menggunakan angkot berwarna oranye (jingga) dengan trayek Banyuresmi-Terminal Guntur. Lama perjalanan yang ditempuh sekitar 45-60 menit. Sesampainya disana, kawasan tampak sepi, maklum bukan hari libur. Dan hal yang dapat langsung saya nikmati adalah luasnya permukaan air Situ Bagendit. Terlihat banyak rakit dan sepeda air berbentuk angsa merapat di bibir danau. Namun, sayang tata ruangnya tidak menarik serta banyak sampah berserakan dimana-mana. Senja pun beranjak malam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beruntungnya, waktu itu bukan musim hujan, jadi kami bisa menikmati pemandangan di malam hari. Selesai mengikuti kegiatan inti, saya dan beberapa teman pergi menuju 'saung' yang letaknya menghadap danau. Ya, sekadar duduk bersantai, berbincang, dan menikmati satu pemandangan indah adalah bulan purnama yang menggantung di langit dengan terang benderangnya, sehingga tentu saja malam itu tidak begitu gelap karena tersinari cahaya bulan purnama. Begitu pun bayangan bulan purnama yang jatuh di permukaan danau Situ Bagendit semakin melengkapi keindahan suasana malam hari disana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi harinya kami beraksi melintasi danau. Ada yang mencoba naik sepeda air angsa yang mana harus bayar sendiri (untuk fasilitas ini tidak disubsidi pihak sekolah), sementara yang lain termasuk saya lebih memilih naik rakit yang lumayan besar berkapasitas 10-15 orang (kalau tidak salah...lupa-lupa ingat!). Melihat ke bawah permukaan air, ternyata ada banyak tumbuhan liar (namanya lupa) yang tumbuh disana sehingga kadang menghalangi bahkan dapat menghambat pendayung rakit untuk melabuhkan dan menarik bambu yang digunakan sebagai penggerak rakit. Dan ada lagi satu hal yang membuat saya dan teman-teman takut pada saat sedang asyiknya berlayar di tengah danau adalah mitos akan banyaknya buaya yang mengintai di bawah permukaan air Situ Bagendit. Entah darimana kabar itu muncul, teman saya bercerita bahwa ia bertanya ini-itu ke bapak pendayung rakit dan salah satu hal yang diceritakan oleh beliau adalah tentang buaya tersebut. Benar-benar membuat was-was! Dan, ada hal lain yang ingin saya ceritakan, di Situ Bagendit itu ternyata ada wahana juga lho, berupa kereta api mini dimana ada jalur rel yang bisa dilintasi. Namun, sayang saat rombongan sekolahku yang datang ternyata sedang rusak dan kereta api tidak beroperasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 2005 itulah saya mengunjungi tempat ini dan sempat bermalam pula disana. Hal yang menjadi catatan saya waktu itu adalah betapa kawasan wisata ini kurang terawat dan kebersihan lingkungan yang kotor dimana gundukan sampah ada dimana-mana. Pun aksi vandalisme pihak yang tidak bertanggung jawab yakni banyaknya coretan di bangunan dan pohon. Padahal, wisata merupakan aset suatu daerah terutama untuk meningkatkan pendapatan daerah itu sendiri. Tapi, entahlah dengan kondisi Situ Bagendit hari ini. Harapan saya pemerintah sudah jauh lebih mempercantik kawasan ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7gSMieUgDI/AAAAAAAAABw/d_vvFhfg01Q/s1600/situ+bagendit.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://1.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7gSMieUgDI/AAAAAAAAABw/d_vvFhfg01Q/s400/situ+bagendit.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk anda yang ingin lebih tahu mengenai kawasan wisata Situ bagendit, silakan buka link di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;a href="http://www.garut.go.id/"&gt;http://www.garut.go.id&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://navigasi.net/"&gt;http://navigasi.net&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;a href="http://www.westjava-indonesia.com/"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;http://wisatapasundan.com/wisata-yuk/garut/situ-bagendit-garut/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8385151673298623958-747157962063885567?l=nengmpit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nengmpit.blogspot.com/feeds/747157962063885567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/semalam-di-situ-bagendit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/747157962063885567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/747157962063885567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/semalam-di-situ-bagendit.html' title='Semalam di Situ Bagendit'/><author><name>mpitjamila</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00816638570901101931</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/TDRPoakb1UI/AAAAAAAAACY/tmQRBlvWMcE/S220/editt2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7gSMieUgDI/AAAAAAAAABw/d_vvFhfg01Q/s72-c/situ+bagendit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8385151673298623958.post-1276110022613272565</id><published>2010-04-03T00:26:00.000-07:00</published><updated>2010-04-03T00:31:48.110-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa'/><title type='text'>Roaming</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7btWjp0M-I/AAAAAAAAABo/GFH382RvuCA/s1600-h/people-talking1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7btWjp0M-I/AAAAAAAAABo/GFH382RvuCA/s320/people-talking1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam perjalanan dari stasiun Kiara Condong Bandung, akhirnya sampailah saya di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Udara pagi yang dingin langsung menggeliati tubuh saya karena saat itu sedang turun hujan gerimis. Dan, tanpa basa basi saya dan teman seperjalanan saya langsung menyerbu toilet umum berhubung kami sudah menahan keinginan untuk miksi hampir 4-5 jam yang lalu. Maklum di kereta ekonomi yang saya tumpangi WC-nya sungguh tidak layak dan tentu saja tidak tersedia air. Pokoknya tidak memenuhi syarat-syarat jamban sehat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selesai dengan urusan eliminasi cairan, saya masih tidak percaya bahwa ketika itu saya sampai di kota ini. Dari agenda yang sudah direncanakan beberapa kali, tahun 2008 lah satu mimpi saya terpenuhi, menginjakkan kaki di tanah Yogyakarta. Melihat sekeliling stasiun rasanya sangat asing bagi saya dengan orang-orang disana. Mungkin karena ini pertama kalinya saya berada disana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada hal yang lucu pada saat saya dan teman kosan saya menduduki sebuah papan dari kayu yang dibentuk seperti alas tempat duduk atau kalau dalam bahasa Sunda dinamakan 'jojodog', mirip seperti jok dekat pintu di angkot-angkot sebagai kursi tambahan bagi penumpang. Ketika itu sambil menunggu jemputan, kami berdua berinisiatif untuk duduk sejenak melepas kelelahan sehabis perjalanan semalam di jok yang tergeletak di pinggir jalan. Memang di dekat jok itu ada semacam keranjang atau 'tolombong' dalam bahasa Sunda dan di dalamnya ada tumpukan makanan dan karung. Entahlah, kami tidak mengetahui siapa pemiliknya. Sedang asyik-asyiknya berbincang, tiba-tiba kami dikagetkan oleh seorang ibu paruh baya berpakaian model tukang jamu Jawa, di bahunya ada selendang bergaris menyilang dan ibu itu berbicara kepada kami dalam bahasa Jawa. Kami pun spontan saling pandang, bingung dan tidak mengerti. Ibu itu berbicara sambil menunjuk ke&amp;nbsp; arah kursi yang duduki. Pikir saya ibu itu ingin ikut duduk di kursi tersebut. Namun saat saya dan teman saya berusaha bertanya dengan menggunakan bahasa Indonesia perihal itu beliau malah terus saja menunjuk ke kursi kami. Namun, rupanya baik maupun ibu itu tidak 'ngeh' dengan apa yang kami maksudkan, mungkin dia pun tidak mengerti bahasa Indonesia. Jadinya, tak selesai urusannya. Akhirnya, salah seorang teman seperjalanan yang notabene bisa dan mengerti bahasa Jawa melihat apa yang terjadi pada kami. Langsung ia memberi isyarat pada kami untuk mengembalikan kedua kursi pada ibu tersebut. Tanpa banyak bertanya kami langsung melakukannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ternyata ibu tersebut berbicara pada saya dan teman saya untuk mengembalikan kursi yang memang digunakan untuk berjualan disana, artinya mau mengambil yang memang haknya. Spontan saya dan teman saya tertawa dengan kebodohan dan ketidaktauan kami. "Roaming euy..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sama halnya saat bersama kelima teman seperjalanan yang merupakan kenalan dadakan di stasiun waktu itu. Ternyata mereka perantauan di Yogyakarta, tapi sepertinya mereka sudah lumayan fasih dan mengerti bahasa Jawa dan memang ada juga yang asli orang Jawa. Roaming juga waktu di dalam kereta mendengarkan obrolan yang tidak saya mengerti. Jadinya hanya bisa diam dan kadang timbul prasangka, "jangan-jangan mereka membicarakan saya dan teman saya".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari cerita saya di atas, ternyata faktor bahasa merupakan hal yang krusial untuk diperhatikan. Bahasa adalah alat komunikasi yang sangat penting dalam proses penyampaian informasi yang efektif. Apabila&amp;nbsp; pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan tidak dimengerti maka feedback (umpan balik) yang diharapkan pun tidak akan tercapai. Akhirnya, saya pun belajar sedikit demi sedikit bahasa Jawa, ya walaupun tidak banyak. Tidak rugi bukan mempelajari sesuatu hal yang baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8385151673298623958-1276110022613272565?l=nengmpit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nengmpit.blogspot.com/feeds/1276110022613272565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/roaming.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/1276110022613272565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/1276110022613272565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/roaming.html' title='Roaming'/><author><name>mpitjamila</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00816638570901101931</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/TDRPoakb1UI/AAAAAAAAACY/tmQRBlvWMcE/S220/editt2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7btWjp0M-I/AAAAAAAAABo/GFH382RvuCA/s72-c/people-talking1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8385151673298623958.post-2430669597766281390</id><published>2010-04-02T23:10:00.000-07:00</published><updated>2010-04-02T23:17:41.537-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kereta api'/><title type='text'>Kereta Api</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7bbaSizvbI/AAAAAAAAABg/Ng3lfFqPiFY/s1600-h/26281_1381069054355_1460808515_31017211_5530313_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7bbaSizvbI/AAAAAAAAABg/Ng3lfFqPiFY/s320/26281_1381069054355_1460808515_31017211_5530313_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bulan Desember lalu, tepatnya tanggal 23 Desember 2008, saya dan teman satu kosan di Jatinangor pergi juga ke Yogyakarta setelah kebimbangan menghantui kami sebelumnya. Lho, bimbang kenapa? Bimbang dengan pilihan sarana transportasi yang akan kami tumpangi. Begitulah kira-kira alasannya. Bagi saya ini tak biasa karena biasanya saya pergi ke tempat-tempat yang saya datangi dengan bis kota (kecuali di luar pulau, itu beda lagi). Jadi, banyak kekhawatiran dan ketakutan yang menghantui pikiran kami karena ini pertama kalinya saya memutuskan untuk naik kereta api. Berbeda dengan teman saya yang sebenarnya sudah pernah menggunakan transportasi jenis ini, hanya saja kelas bisnis. Namun, alasan yang paling mendasar mengapa saya khususnya menggunakan kereta api adalah karena tarif kereta api ekonomi ini murah meriah, sesuai dengan kantong mahasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan inilah pertama kalinya kami berdua memberanikan diri naik kereta api ekonomi. Tanpa kami tahu bagaimana situasi dan kondisi di dalamnya. Benar-benar tidak terbayangkan. Suasana di stasiun kala itu sedang ramai penumpang yang menunggu mungkin karena saat itu mulai memasuki musim liburan. Bahkan, tidak hanya penumpang tapi juga pedagang keliling, pengemis, calo, pengamen, petugas keamanan pun ikut meramaikan kehidupan stasiun. Memang waktu itu banyak orang yang akan pulang kampung untuk mengisi waktu liburan mereka di kampung halaman. Jadi, pantas saja begitu ramai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, setelah dikaji dan ditelaah ternyata ada banyak hal, hikmah, maupun pelajaran hidup yang dapat saya ambil dari perjalanan saya menggunakan kereta ekonomi. Peribahasa mengatakan "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian...bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Kira-kira begitulah yang saya rasakan berkereta api ria selama kurang lebih 10 jam perjalanan dari Bandung-Yogyakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan di antara kehidupan. Itulah yang terbesit di pikiran saya saat berada di dalam kereta api ekonomi. Bayangkan saat kereta datang orang-orang dengan segera berebut masuk melewati pintu gerbong. Sudah seperti peristiwa pembagian zakat yang ricuh atau rebutan sembako gratis dari pemerintah. Kaget juga saya ketika melihat kondisi di dalam gerbong kereta, entah ada berapa gerbong waktu itu, saya tidak ingat. Semua tempat duduk penuh, begitu pun celah diantara tempat duduk, semuanya penuh. Ada yang berdiri, bersandar, duduk menggunakan alas berupa kertas koran. Ternyata saya baru 'ngeh' dengan koran-koran yang diperjualbelikan di stasiun sebelumnya. Dan, sedikit lemas rasanya hari itu, harus berdiri selama 10 jam. Tapi, akhirnya nikmati saja hal ini, pikirku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, ada hal lain dari sekedar cerita saya di atas, yang menarik perhatian adalah para pedagang di kereta yang wara-wiri, bolak-balik, kesana-kemari menawarkan dagangannya. Entah ada berapa pedagang yang ada disana, rata-rata usia mereka seusia dengan orang tua saya. Kebanyakan pedagang berjualan nasi dan rupa-rupa lauk pauknya, ada juga penganan ringan, makanan khas untuk oleh-oleh, dan berbagai macam minuman (air mineral, kopi, susu, minuman suplemen, dan masih banyak lagi). Mereka berteriak-teriak tiada henti menawarkan dagangannya kepada setiap penumpang yang dilewatinya. Padahal di dalam ruangan sebetulnya sesak, susah untuk berjalan karena banyaknya penumpang termasuk saya yang melantai di bawah. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Keikhlasan dalam bekerja, pantang mengeluh, dan kerja keras adalah makna perjuangan yang ditunjukkan para pedagang yang berlalu lalang silih berganti. Mungkin keluarga mereka sedang menunggu mereka di rumah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu hal lain yang menarik yang saya temukan adalah ada beragam orang disana, entah berbeda suku, agama, profesi, bahasa, topik pembicaraan, dan lainnya. Seperti Ibu yang duduk di samping saya saat pagi menjelang, beliau mengajak saya ngobrol dengan dialek Jawanya. Jadilah beliau cerita dan dari sanalah saya tahu bahwa tujuan beliau ke Surabaya. Senang rasanya berkenalan dengan orang baru walaupun ibu-ibu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun sayang tidak ada pengamen disana, padahal saya menunggu-nunggu untuk sekedar menghibur di tengah kepenatan sebuah gerbong..:) &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa tips dari saya bagi anda yang tertarik bepergian dengan kereta api kelas ekonomi :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Bawalah barang bawaan anda sewajarnya. Barang-barang berharga simpan di area yang tersembunyi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Jangan memakai perhiasan berlebihan (bagi perempuan), cukup jam tangan yang nempel di tangan sebagai penunjuk waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. HP mode getar atau silence &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Jangan sering-sering minum, berhubung WC di kereta ekonomi kebanyakan tidak layak pakai dan biasanya tidak ada airnya. Dan kadang-kadang kita harus kuat menahan BAK berjam-jam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Bawa koran atau apapun itu sebagai alas duduk, jaga-jaga kalau tidak mendapat tempat duduk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Perhatikan orang-orang sekitar. Kalau saya lebih aman duduk di samping ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah berusia separuh baya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Kadang anda harus belajar mempercayai orang baru tapi anda jangan mudah percaya juga dengan orang baru. Kondisikan saja.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Hati-hati dengan copet atau kriminalitas yang mungkin terjadi. Waspadalah!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9. Bawa makanan secukupnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;10. Tiket jangan lupa! Jangan sampai dianggap penyusup oleh petugas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;11. Tidak kalah pentingnya, berdo'a sebelum berangkat dan sabar, sabar, dan sabar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kira-kira itulah yang bisa saya tulis. Semoga bermanfaat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terakhir, cobalah perhatikan kalau anda punya kesempatan naik kereta ekonomi di musim liburan, akan banyak sekali anda dapatkan pelajaran, pengalaman, dan perkenalan. Ada yang mau menemani saya berlibur via kereta api ekonomi???&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;-Jatinangor, 26 Maret 2010-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dedicated to Uni R, Terima kasih sudah menemaniku di kereta ekonomi. Jangan kapok Uni! Hehe&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terima kasih juga untuk 5 orang teman temuan kami di stasiun...hehe, it was very nice experience to know you all.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8385151673298623958-2430669597766281390?l=nengmpit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nengmpit.blogspot.com/feeds/2430669597766281390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/kereta-api.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/2430669597766281390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8385151673298623958/posts/default/2430669597766281390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nengmpit.blogspot.com/2010/04/kereta-api.html' title='Kereta Api'/><author><name>mpitjamila</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00816638570901101931</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/TDRPoakb1UI/AAAAAAAAACY/tmQRBlvWMcE/S220/editt2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S7bbaSizvbI/AAAAAAAAABg/Ng3lfFqPiFY/s72-c/26281_1381069054355_1460808515_31017211_5530313_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
